Prakiraan Harga Emas 2026: Analisis UBS tentang Potensi Penurunan Moderat

 

Pendahuluan

Emas telah lama menjadi instrumen lindung nilai (hedge) utama terhadap ketidakpastian ekonomi, inflasi, dan gejolak geopolitik. Pada akhir tahun 2025, pasar emas mencatat rekor historis dengan harga spot menembus US $5.500 per ons, memicu gelombang minat beli dari institusi keuangan, bank sentral, serta investor ritel. Namun, pada kuartal pertama 2026, pergerakan harga emas mulai menunjukkan tanda-tanda koreksi, sementara lembaga riset terkemuka, UBS, mengeluarkan proyeksi yang menekankan kemungkinan penurunan moderat pada sisa tahun ini. Artikel ini mengkaji secara mendalam faktor‑faktor fundamental dan teknikal yang melatarbelakangi perkiraan UBS, menilai implikasi bagi investor, serta menyoroti risiko‑risiko utama yang dapat memengaruhi jalur harga emas ke depan.

1. Ringkasan Proyeksi UBS

UBS, salah satu bank investasi global dengan jaringan riset yang luas, pada 29 Januari 2026 mempublikasikan perkiraan harga emas berikut:

  • Kuartal I‑III 2026: Harga emas diproyeksikan berada pada kisaran US $6.200 per ons.
  • Akhir 2026: Diperkirakan harga emas akan turun menjadi sekitar US $5.900 per ons.

Proyeksi ini menandakan ekspektasi kenaikan signifikan pada tiga kuartal pertama, diikuti dengan penurunan moderat di paruh kedua tahun. UBS menegaskan bahwa faktor‑faktor makroekonomi, kebijakan moneter, serta dinamika permintaan institusional menjadi pendorong utama pergerakan tersebut.

2. Faktor‑Faktor Fundamental yang Mendasari Proyeksi

2.1 Kebijakan Moneter dan Suku Bunga

Selama akhir 2025, Federal Reserve (Fed) melakukan tiga pemotongan suku bunga masing‑masing 25 basis poin, menurunkan target federal funds rate menjadi kisaran 3,50 %‑3,75 %. Langkah ini bertujuan meredam perlambatan ekonomi yang dipicu oleh inflasi yang masih berada di atas target. Kebijakan suku bunga yang lebih rendah biasanya meningkatkan daya tarik emas karena biaya kesempatan (opportunity cost) memegang emas menurun.

Namun, pada pertengahan 2026, pasar mulai mengantisipasi kemungkinan “hawkish turn” – yakni kebijakan pengetatan kembali – sebagai respons terhadap data tenaga kerja yang menunjukkan tekanan inflasi kembali menguat. Kenaikan suku bunga diharapkan meningkatkan imbal hasil obligasi pemerintah AS, yang pada gilirannya menguatkan dolar AS dan menekan harga emas secara relatif.

2.2 Kekuatan Dolar AS

Indeks Dolar (DXY) pada akhir Januari 2026 berada dalam kisaran 95,00‑96,00, level terendah sejak awal 2022. Penurunan nilai dolar biasanya mendorong harga emas naik karena emas dihargai dalam dolar; ketika dolar melemah, emas menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang lain.

UBS mencatat bahwa meskipun dolar berada pada level lemah, terdapat tekanan yang meningkat untuk menguat kembali menjelang pemilihan tengah masa (mid‑term elections) di Amerika Serikat. Kebijakan fiskal dan potensi intervensi resmi dapat mengembalikan kepercayaan terhadap dolar, menghasilkan penurunan permintaan emas sebagai aset pelindung.

2.3 Permintaan Institusional dan Bank Sentral

Data World Gold Council 2025 menunjukkan bahwa total permintaan emas global melampaui 5.000 metrik ton, dengan komponen utama berasal dari Exchange‑Traded Funds (ETF) yang meningkat 801 ton, serta pembelian batangan dan koin yang mencapai rekor 12‑tahun. Bank sentral, terutama di Cina dan India, tetap menjadi pembeli utama, menambah sekitar 863 ton pada 2025.

UBS memperkirakan bahwa pada kuartal I‑III 2026, permintaan institusional akan tetap kuat, didorong oleh aliran masuk ke produk‑produk ETF yang terus tumbuh. Namun, di paruh kedua tahun, prospek inflasi yang menurun dan kebijakan moneter yang lebih ketat dapat menurunkan daya tarik investasi emas, memicu penurunan moderat pada harga.

2.4 Geopolitik dan Ketidakpastian Ekonomi

Ketegangan geopolitik, seperti konflik dagang antara Amerika Serikat dan beberapa negara Asia, serta ketidakpastian politik di Eropa, terus menjadi pendorong permintaan emas sebagai “safe haven”. Namun, pada 2026, sebagian analis menilai bahwa kejutan geopolitik yang signifikan tidak lagi terjadi dengan frekuensi tinggi, sehingga pengaruhnya terhadap harga emas berkurang. UBS menilai bahwa faktor geopolitik akan memberikan dukungan terbatas pada harga emas di luar kuartal pertama.

3. Analisis Teknis: Level Kunci dan Pola Grafik

3.1 Support dan Resistance

  • Resistance utama: US $5.600‑$5.700 per ons (level yang ditembus pada akhir 2025).
  • Support kuat: US $5.200 per ons (level terendah pada penurunan awal 2026).

UBS memproyeksikan bahwa harga akan menembus resistance di atas US $5.800 pada kuartal I‑III, mencapai puncak di US $6.200. Pada kuartal IV, harga diperkirakan akan berbalik turun kembali ke level support di sekitar US $5.900, menciptakan pola “bull‑to‑bear” yang moderat.

3.2 Moving Averages dan Indikator Momentum

  • MA 50‑hari: Pada akhir Januari 2026 berada di sekitar US $5.450, menunjukkan tren naik jangka pendek.
  • MA 200‑hari: Mempertahankan level di US $5.150, menandakan bahwa tren jangka panjang masih bullish, meskipun potensi koreksi dapat terjadi.

Indeks Relative Strength Index (RSI) pada 28 Januari 2026 berada pada 68, mengindikasikan kondisi overbought yang biasanya diikuti oleh retracement singkat. UBS menilai bahwa kondisi overbought ini dapat berperan dalam menurunkan harga ke level moderat pada akhir tahun.

4. Implikasi bagi Investor

4.1 Investor Institusional

Bagi institusi yang menempatkan sebagian besar alokasi portofolio pada emas sebagai lindung nilai, proyeksi UBS menandakan bahwa peningkatan alokasi pada kuartal I‑III dapat memberikan eksposur yang menguntungkan, sementara pada kuartal IV sebaiknya mempertimbangkan diversifikasi ke aset alternatif (misalnya, obligasi pemerintah atau mata uang lain).

4.2 Investor Ritel

Investor ritel yang mengandalkan emas sebagai penyimpan nilai harus menilai risiko koreksi moderat pada paruh kedua tahun. Strategi dollar‑cost averaging (DCA) dapat membantu meredam volatilitas, terutama bila dilakukan secara teratur selama periode harga yang masih berada di atas US $5.500 per ons.

4.3 Penggunaan Instrumen Derivatif

Produk futures dan opsi pada emas dapat dimanfaatkan untuk melindungi posisi (hedging) terhadap penurunan harga yang diproyeksikan pada akhir 2026. Namun, penggunaan leverage harus dikelola dengan hati‑hati, mengingat volatilitas pasar komoditas yang tinggi.

5. Risiko‑Risiko Utama

RisikoPenjelasan
Kebijakan Moneter yang Tidak TerdugaJika Fed atau bank sentral utama lain (ECB, BoE) mengubah arah kebijakan secara tiba‑tiba, harga emas dapat bergerak secara signifikan ke arah yang berlawanan dengan proyeksi.
Gejolak GeopolitikKonflik atau krisis politik yang intens dapat memicu lonjakan permintaan safe‑haven, mendorong emas kembali ke level rekor.
Kenaikan Suku Bunga yang CepatJika inflasi tetap tinggi dan suku bunga naik lebih cepat dari perkiraan, daya tarik emas akan menurun secara tajam.
Fluktuasi Nilai Tukar DolarPenguatan dolar yang kuat dapat menurunkan harga emas meskipun faktor fundamental lain tetap positif.
Penurunan Permintaan InstitusionalJika aliran masuk ke ETF emas melambat atau bank sentral mengurangi pembelian, permintaan dapat tertekan.

6. Skenario Alternatif

6.1 Skenario Bullish

Jika data inflasi tetap di atas target dan Fed terpaksa menunda kenaikan suku bunga, serta dolar tetap lemah, harga emas dapat melampaui US $6.500 pada kuartal III 2026. Pada skenario ini, permintaan institusional dan ritel akan terus menguat, menciptakan tren bullish yang berkelanjutan hingga akhir tahun.

6.2 Skenario Bearish

Jika Fed melakukan pengetatan agresif pada kuartal II (misalnya, peningkatan suku bunga sebesar 50 basis poin), serta dolar kembali menguat ke level di atas 105 pada DXY, emas dapat tertekan ke kisaran US $5.300‑$5.400 pada akhir 2026. Penurunan ini akan dipercepat oleh penurunan permintaan ETF dan penurunan pembelian bank sentral.

7. Kesimpulan

Proyeksi UBS menegaskan bahwa harga emas pada tahun 2026 akan mengalami fase kenaikan signifikan pada kuartal pertama hingga ketiga, diikuti oleh koreksi moderat pada paruh kedua tahun. Faktor utama yang memengaruhi pergerakan tersebut meliputi kebijakan moneter Fed, kekuatan dolar AS, serta permintaan institusional yang masih kuat. Meskipun demikian, risiko‑risiko makroekonomi, geopolitik, dan perubahan kebijakan dapat mengubah lintasan harga secara substansial.

Bagi para pelaku pasar, penting untuk memantau indikator‑indikator kunci seperti keputusan Fed, pergerakan indeks DXY, serta data permintaan ETF emas. Strategi investasi yang fleksibel—seperti dollar‑cost averaging, penggunaan kontrak futures untuk hedging, atau penyesuaian alokasi aset pada portofolio institusional—akan membantu mengelola volatilitas yang diproyeksikan oleh UBS. Pada akhirnya, pemahaman yang mendalam tentang dinamika fundamental dan teknikal akan menjadi landasan bagi keputusan investasi yang lebih terinformasi dan berimbang.

Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama