1. Pendahuluan
Pada awal pekan pertama bulan Februari 2026, Ethereum (ETH) mencatat penurunan nilai yang signifikan. Harga aset kripto terkemuka ini turun lebih dari tujuh persen, menembus zona psikologis penting di bawah US $2.300 per koin. Penurunan ini terjadi bersamaan dengan koreksi tajam pada pasar Bitcoin, penguatan dolar Amerika Serikat, serta dinamika geopolitik yang memengaruhi sentimen risiko global. Artikel ini menyajikan analisis mendalam mengenai faktor‑faktor yang memicu penurunan tersebut, implikasi bagi ekosistem Ethereum, serta prospek jangka menengah yang dapat diharapkan oleh para pelaku pasar.
2. Ringkasan Pergerakan Harga
Menurut data pasar yang dihimpun pada pukul 02:00 WIB, harga spot Ethereum berada pada level US $2.263,08, menandai penurunan sebesar 7,4 % dibandingkan dengan penutupan harian pada hari Jumat sebelumnya. Volume perdagangan harian tercatat meningkat menjadi 1,8 miliar dolar, mengindikasikan tingginya minat jual di kalangan investor institusional dan ritel. Meskipun demikian, likuiditas di bursa utama tetap kuat, dengan spread bid‑ask yang relatif sempit, menandakan pasar masih berfungsi secara efisien meskipun berada dalam fase koreksi.
3. Faktor‑Faktor Makroekonomi yang Mendorong Penurunan
3.1. Penguatan Dolar Amerika Serikat
Salah satu pendorong utama penurunan harga Ethereum adalah penguatan dolar AS yang terjadi setelah nominasi Kevin Warsh sebagai Ketua Federal Reserve. Indeks Dolar Spot Bloomberg mencatat kenaikan 0,1 % pada hari Senin, menandai pergerakan terbesar dalam satu hari sejak Mei 2025. Dolar yang lebih kuat biasanya menurunkan daya tarik aset yang dipatok dalam dolar, termasuk mata uang kripto, karena investor beralih ke instrumen yang menawarkan imbal hasil nominal lebih tinggi.
3.2. Kebijakan Moneter yang Lebih Hawkish
Penunjukan Warsh, yang dikenal sebagai pendukung kebijakan moneter ketat, menimbulkan ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve akan memperketat suku bunga lebih cepat daripada yang diperkirakan sebelumnya. Kenaikan suku bunga secara teori meningkatkan biaya pinjaman dan menurunkan nilai aset berisiko, termasuk Ethereum yang sering dipandang sebagai investasi spekulatif.
3.3. Ketegangan Geopolitik Amerika‑Iran
Berita tentang ketegangan militer yang meningkat antara Amerika Serikat dan Iran pada akhir pekan sebelumnya menambah ketidakpastian di pasar keuangan. Investor global cenderung mengalihkan portofolio mereka ke aset safe‑haven seperti dolar dan obligasi pemerintah Amerika Serikat, sehingga menurunkan permintaan terhadap aset digital.
4. Faktor‑Faktor Spesifik Ethereum
4.1. Tekanan pada Layer‑1 dan Persaingan L2
Ethereum saat ini berada dalam fase transisi menuju implementasi penuh sharding pada jaringan utama (Ethereum 2.0). Sementara proses ini menjanjikan peningkatan skalabilitas, ketidakpastian mengenai jadwal rilis serta persaingan dari solusi layer‑2 (L2) seperti Optimism, Arbitrum, dan zkSync menimbulkan tekanan pada harga ETH. Beberapa investor menilai bahwa manfaat jangka pendek dari upgrade tidak dapat mengimbangi risiko teknis yang masih ada.
4.2. Penurunan Aktivitas DeFi
Total Nilai Terkunci (TVL) dalam protokol DeFi yang berjalan di atas Ethereum mengalami penurunan sebesar 9 % selama minggu pertama Februari. Penurunan ini dipicu oleh penarikan likuiditas ke aset yang dianggap lebih stabil, terutama stablecoin USDC dan USDT, yang mengalami peningkatan permintaan sebagai tempat penyimpanan nilai sementara. Karena DeFi merupakan salah satu pendorong utama permintaan ETH (melalui staking dan pembayaran gas), penurunan aktivitas ini memberikan kontribusi negatif pada harga.
4.3. Sentimen Pasar Ritel
Data dari platform analitik on‑chain menunjukkan bahwa alamat dompet ritel (dengan saldo kurang dari 5 ETH) meningkatkan frekuensi penjualan pada periode 24‑36 jam terakhir. Hal ini mencerminkan reaksi emosional terhadap pergerakan harga Bitcoin yang juga sedang turun, serta kekhawatiran tentang likuiditas pada bursa spot utama.
4.4. Kinerja Gas Fees
Selama minggu pertama Februari, rata‑rata biaya gas (gas fees) pada jaringan Ethereum berada pada level US $22,20 per gas unit, meningkat 15 % dibandingkan dengan minggu sebelumnya. Kenaikan biaya transaksi ini menurunkan daya tarik penggunaan aplikasi terdesentralisasi (dApps) oleh pengguna ritel, yang pada gilirannya menurunkan permintaan langsung terhadap ETH sebagai bahan bakar jaringan.
5. Analisis Teknikal
5.1. Level Support dan Resistance
Grafik harian menunjukkan bahwa harga Ethereum menembus level resistance utama di US $2.350, kemudian melanjutkan penurunan hingga menembus support pertama di US $2.300. Support selanjutnya berada di US $2.150, yang berkorespondensi dengan level Fibonacci retracement 38,2 % dari pergerakan bullish sebelumnya (US $1.800–US $2.800). Jika harga berhasil menahan level US $2.150, kemungkinan besar akan terjadi rebound menuju resistance selanjutnya di US $2.400.
5.2. Indikator Momentum
Indikator Relative Strength Index (RSI) pada timeframe 14‑hari berada pada level 32, mengindikasikan kondisi oversold. Namun, nilai tersebut belum mencapai zona ekstrem (di bawah 30), sehingga belum dapat dipastikan apakah penurunan akan segera berbalik arah. Indikator Moving Average Convergence Divergence (MACD) menunjukkan sinyal bearish dengan histogram yang berada di bawah garis nol, memperkuat pandangan bahwa tekanan jual masih mendominasi.
5.3. Pola Candlestick
Pada sesi perdagangan terakhir, muncul pola “Bearish Engulfing” di level US $2.300, yang biasanya menandakan potensi kelanjutan tren turun. Kombinasi pola ini dengan volume perdagangan yang tinggi menambah keyakinan bahwa penurunan dapat berlanjut dalam beberapa sesi ke depan.
6. Dampak Terhadap Ekosistem
6.1. Staking dan Pendapatan Pasif
Ethereum 2.0 mengandalkan mekanisme Proof‑of‑Stake (PoS) yang memungkinkan pemegang ETH mendapatkan imbal hasil (staking rewards). Penurunan harga ETH secara langsung mengurangi nilai total yang di‑stake, yang pada gilirannya dapat menurunkan total pendapatan jaringan. Namun, tingkat imbal hasil tetap berada pada kisaran 4,2 %‑4,5 % per tahun, yang masih kompetitif dibandingkan dengan alternatif investasi tradisional.
6.2. Proyek‑proyek DeFi dan NFT
Banyak proyek DeFi dan NFT yang mengandalkan likuiditas ETH sebagai kolateral utama. Penurunan nilai ETH dapat meningkatkan rasio kolateralisasi (collateralization ratio) pada platform peminjaman, memicu margin calls dan likuidasi otomatis. Hal ini dapat memperburuk kondisi pasar dengan menambah tekanan jual tambahan pada token‑token terkait.
6.3. Pengembangan Teknologi
Tim pengembang Ethereum tetap fokus pada roadmap “The Merge”, “Shard Chains”, dan integrasi rollup L2. Penurunan harga tidak mengubah jadwal teknis, namun dapat memengaruhi alokasi dana pengembangan dari komunitas dan investor. Secara historis, fase koreksi harga sering diikuti oleh peningkatan aktivitas pengembangan, karena tim dapat mengalokasikan lebih banyak sumber daya untuk riset tanpa tekanan pasar yang berlebihan.
7. Perbandingan dengan Bitcoin
Bitcoin, sebagai mata uang kripto paling dominan, juga mencatat penurunan lebih dari tiga persen pada periode yang sama, turun ke level US $76.800. Meskipun kedua aset mengalami koreksi, persentase penurunan Ethereum lebih tajam, mencerminkan sensitivitas yang lebih tinggi terhadap faktor‑faktor risiko makroekonomi. Selain itu, korelasi historis antara ETH dan BTC tetap tinggi (lebih dari 0,85), yang menunjukkan bahwa pergerakan harga Ethereum tidak dapat dipisahkan sepenuhnya dari dinamika pasar Bitcoin.
8. Outlook Jangka Menengah
8.1. Skenario Bullish
Jika dolar AS mengalami koreksi setelah penunjukan Warsh, dan tekanan geopolitik mereda, permintaan terhadap aset berisiko dapat kembali meningkat. Pada kondisi tersebut, harga Ethereum berpotensi menguji kembali level resistance di US $2.400‑$2.500 dalam tiga hingga empat minggu ke depan. Dukungan tambahan dapat datang dari peluncuran rollup L2 yang berhasil meningkatkan throughput transaksi, sehingga menurunkan biaya gas secara signifikan.
8.2. Skenario Bearish
Sebaliknya, apabila Federal Reserve mengumumkan kebijakan suku bunga yang lebih tinggi dari perkiraan, dan dolar AS terus menguat, maka tekanan jual pada Ethereum dapat berlanjut hingga menembus support di US $2.150. Penurunan lebih lanjut dapat memicu likuidasi pada platform DeFi yang menggunakan ETH sebagai kolateral, menambah beban penjualan pada pasar spot.
8.3. Faktor‑faktor Kunci
- Kebijakan moneter Fed: keputusan suku bunga akan menjadi penentu utama arah dolar dan, secara tidak langsung, harga ETH.
- Kecepatan peluncuran upgrade Ethereum 2.0: keberhasilan implementasi sharding dapat meningkatkan kepercayaan investor.
- Sentimen global: resolusi ketegangan geopolitik antara AS dan Iran dapat mengurangi permintaan safe‑haven, mengalihkan aliran modal kembali ke aset berisiko.
9. Kesimpulan
Penurunan lebih dari tujuh persen pada harga Ethereum di awal Februari 2026 merupakan hasil kombinasi faktor makroekonomi (penguatan dolar, ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat, dan ketegangan geopolitik) serta faktor spesifik jaringan (penurunan aktivitas DeFi, kenaikan biaya gas, dan persaingan dengan solusi layer‑2). Meskipun indikator teknikal menunjukkan kondisi oversold, tekanan jual masih signifikan dan dapat berlanjut jika kondisi makro tidak membaik. Investor yang mempertimbangkan posisi di Ethereum hendaknya memperhatikan data fundamental, kebijakan moneter, serta perkembangan teknis pada jaringan utama.